Tanjungkerta, KORSUM.NET - Banyak warga Desa Mulyamekar Kecamatan Tanjungkerta yang berlangganan PDAM. Namun akhir-akhir ini mengaku kecewa dengan pelayananya termasuk tarif airnya yang terasa 'mencekik leher. sementara pemakaian air tak sebesar tarif yang dikenakan peruhasaan milik Pemda itu.

Kekecewaan ini diutarakan warga Mulyamekar Romli Firdaus yang juga salah satu pelanggan PDAM. Tiap bulan kata dia, harus merogoh kocek lebih dalam hanya untuk bayar tagihan PDAM. Sementara pemakaian air tidak terlalu besar.

Romli yang menjabat Sekdes Mulyamekar itu mengaku dirinya pernah bertengkar dengan petugas PDAM gara-gara pemasangan meteran baru karena yang lama bermasalah. Pertengkaran dipicu oleh ulah petugas PDAM yang minta bayaran setelah selesai pasang meteran baru tersebut.

"Jelas ditolak karena saya tahu bahwa ganti meteran itu merupakan tanggungjawab PDAM. Tapi mengapa dibebankan ke pelanggan?," tandas dia di kantor Desa Mulyamekar, Kamis (30/1).

Perlakuan sama kepada pelanggan lain lanjut dia, petugas PDAM selalu minta bayaran setiap pemasangan meteran baru sehingga banyak dikeluhkan soal pelayanan PDAM termasuk tarif airnya yang rata-rata di atas 100 ribu.

Senada Kades Mulyamekar Rahwi menyebut pantas warga kecewa kepada PDAM. Sebab kata dia, air yang dijual PDAM itu berasal dari mata air Cibuntu yang dulunya dikelola desa untuk masyarakat. Mata air itu milik Perhutani tapi masuk wilayah Mulyamekar.

"Tapi setelah mata air itu diambil alih PDAM dan dijual ke masyarakat, menjadi persoalan karena harga air mahal. Seharusnya PDAM mengkaji soal penerapan tarif air, bahkan seharusnya juga PDAM mengerti soal hasil bagi atau persentase ke desa karena desa perlu PAD,"  tuturnya.

Mata air yang diambil PDAM itu tidak perlu gunakan mesin pendorong karena posisi mata air Cibuntu menurun maka biaya operasional kecil. Penduduk desa sebagian besar petani yang penghasilannya tidak terlalu besar. Sehingga tarif air PDAM jangan samakan dengan yang di kota.**