Kota, KORSUM.NET-Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang melalui Diskominfosanditik menggelar acara Focus Group Discussion (FGD) II Transformasi Digital menuju Sumedang Digital Region Tahun 2020, yang dilaksanakan di Aula Tampomas IPP, Kamis (27/2).

Acara yang dibuka secara langsung oleh Sekretaris Daerah Herman Suryatman, tersebut turut dihadiri oleh Kepala Dinas Diskominfosanditik Iwa Kuswaeri, jajaran SBE Universitas Prasetiya Mulya, dan para Kepala Perangkat Daerah Kabupaten Sumedang.

Kepala Dinas Diskominfosanditik Iwa Kuswaeri selaku ketua penyelenggara dalam laporannya mengatakan, dunia digital sudah tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari di masyarakat, baik dalam bidang informasi, keuangan, UMKM, dan yang lainnya. Tentunya perlu usaha untuk menjawab tantangan tersebut.

"Dengan kebijakan Bapak Bupati, Wakil Bupati, dan Sekda yakni mewujudkan transformasi digital Sumedang menuju Digital Region diharapkan menjadi jawaban dalam menangkap, menyikapi, dan mengimbangi perkembangan digital tersebut," ujarnya.

Menurut Iwa, kebijakan tersebut sangat didukung para ASN yang semuanya all out. Untuk mewujudkannya, pihaknya telah menggandeng Universitas Prasetya Mulya untuk membantu mengurai dan membuat beberapa kebijakan untuk meningkatkan pelayanan dan menangkap semua peluang dalam perkembangan industri 4.0 tersebut.

"Besar harapan kami, kegiatan hari ini menjadi tonggak awal semua pihak untuk mewujudkan komitmen bersama menjadikan Sumedang Digital Region atau Sumedang Smart City," ucapnya.

Sementara itu, Sekda dalam arahannya mengutip satu slogan yakni "inovasi atau mati" yang menurutnya di kalangan swasta slogan tersebut sudah terbukti dimana banyak perusahaan yang sebelumnya tidak diperkirakan menjadi besar karena inovasi. Begitu pula, banyak hang gulung tikar karena tidak bisa berinovasi.

"Begitupun pada pemerintahan, akan terjadi hal yang sama. Kita memang jauh dari jargon seperti itu. Tetapi di Sumedang kita akan mulai mencoba. Sebuah pemerintahan kalau tidak inovatif akan ditinggalkan rakyatnya. Ciri dari pemerintahan yang ditinggalkan rakyatnya, apabila rakyat sudah tidak berpartisipasi, dan rakyat apatis. Bila hal itu terjadi, pemerintahan akan 'collapse'," ujarnya.

Dikatakan Sekda lebih lanjut, inovasi yang harus dilakukan olehn kalangan pemerintahan adalah inovasi 'relationship' berbasis kolaborasi. Karena persoalan utama hari ini adalah 'relationship'.

"Makanya harus ada inovasi bagaimana 'relationship' ini bisa kita jaga. Relationsip di sini yang pertama adalah 'human gate', kedua adalah 'ecological gate', dan yang ketiga adalah 'spiritual gate'," paparnya.

Sekda menegaskan, pemerintahan saat ini harus selalu berinovasi agar bisa mendekatkan kembali hubungan manusia dengan manusia ('human gate'),
hubungan manusia dengan alam ('ecological gate') dan hubungan manusia dengan sang pencipta ('spiritual gate').

"Jawabannya ada dua. Pertama, teknologi yang kita kendalikan. Kedua, budaya yang harus dijaga," tuturnya.

Dikatakan Sekda, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan budaya sehingga bentuknya ideal dan dua-duanya menjadi dasar dalam inovasi.

Terakhir Sekda berharap, trasformasi digital dengan berbagai inovasinya dapat lahir melalui kegiatan tersebut.

"Mudah-mudahan acara ini menjadi input yang baik dalam rangka penyusunan cetak biru transformasi digital menuju Sumedang Digital Region," tukasnya.

Pada kegiatan teraebut dilakukan pula penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kepala Diskominfosanditik dengan Universitas Prasetya Mulya tentang pelaksanaan kegiatan penyusunan dokumen transformasi digital menuju Sumedang Digital Region.***