Kota, KORSUM.NET - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang, mencatat sekitar 30 peristiwa bencana alam terjadi diawal tahun 2020 ini, yang menyebabkan dua korban jiwa, 82 rumah mengalami kerusakan.

Adapun bencana yang terjadi di beberapa kecamatan di Kabupaten Sumedang tersebut yaitu, seperti tanah longsor, pergerakan tanah, angin puting beliung, pohon tumbang dan banjir bandang sejak awal Januari 2020.

"Selama bulan Januari kemarin, tercatat 30 peristiwa bencana terjadi di Kabupaten Sumedang. Dua orang meninggal dunia, yaitu Apong (50) dan Elan (65), akibat terbawa longsoran yang terjadi di Dusun Cilipung Kelurahan Pasanggrahan Baru Kecamatan Sumedang Selatan," ujar Kepala BPBD Kabupaten Sumedang Ayi Rusmana melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik, Yedi saat dikonfirmasi Korsum.net, Jumat (31/1).

Yedi menuturkan, bencana longsor terjadi sebanyak 14 kali, angin puting beliung 1 kali, banjir bandang 3 kali, pohon tumbang 1 kali, pergerakan tanah 5 kali. Untuk bencana angin puting beliung terjadi di Dusun Mariuk Desa Sukamulya Kecamatan Ujungjaya yang mengakibatkan pohon tumbang menimpa rumah dan 23 rumah mengalami kerusakan karena atapnya berterbangan.

Sementara untuk bencana pergerakan tanah terjadi di Dusun Nyalindung Desa Padanan Kecamatan Paseh, Dusun Binong, Bojong Totor, Cibitung Dan Antaria Desa Sirnamulya Kecamatan Sumedang Utara, Dusun Cibungur RT 002 RW 007 Desa Margamekar Kecamatan Sumedang Selatan, Dusun Cihantap Desa Margamukti Kecamatan Sumedang Utara dan b Blok Babakan Cikamuning Desa Mekar Rahayu  Kecamatan Sumedang Selatan.

"Akibatnya sebanyak 51 rumah mengalami kerusakan, 2 diantaranya rusak parah," ujarnya.

Adapun bencana yang mendominasi di Bulan januari ini yaitu bencana lonsor dengan catatan terjadi 14 kali. Dan dari serangkaian bencana tersebut sedikitnya 1 hektare sawah yang tersebar dibeberapa kecamatan  mengalami kerusakan.

"Kalau untuk kerugiannya ditaksir mencapai Rp.731 juta. Dan atas adanya serangkaian bencana tersebut, kita sudah melakukan koordinasi dan memberikan hasil laporan ke dinas terkait. Seperti untuk bencana lonsor yang mengakibatkan kerusakan TPT (Tembok penahan tebing) dan akses jalan kita koordinasi dengan PUPR. Sedangkan untuk lonsor yang mengakibatkan kerusakan sawah atau lahan pertanian, kita koordinasi dengan Dinas Pertanian," tegasnya.

Yedi menambahkan, semua kejadian bencana itu terutama longsor, banjir, dan pergerakan tanah dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Karena potensi hujan masih mungkin terjadi.

"Untuk itu, kami mengimbau kepada masyarakat agar selalu waspada jika hujan turun dengan intensitas yang tinggi. Terutama untuk wilayah wilayah yang sudah terjadi pergerakan tanah. Karena dilihat dari topografi-nya, wilayah Sumedang, memang merupakan daerah perbukitan dan pegunungan, yang sangat berpotensi terjadi bencana pergerakan tanah,"  tandasnya. **