Sumedang, KORSUM.NET - Meski belum ada satupun terpapar Corona Virus Disease (COVID-19) di Sumedang. Namun, Imbas dari Penyebaran virus corona atau Covid-19 di Indonesia membuat tingkat keterisian (okupansi) hotel dan pengunjung di Obyek Wisata menurun drastis.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Sumedang, H. Nana Mulyana mengatakan, dampak dari penyebaran virus Corona ini, sudah dirasakan oleh para pelaku usaha yang ada di Sumedang. Khususnya masalah akomodasi.

Dimana, semua event-event di hotel dibatalkan, karena hotel tidak mau mengambil resiko. Bahkan kamar-kamar hotel di Jatinangor yang tadinya akan diisi oleh kegiatan dari IPDN, semuanya dibatalkan, yang jumlahnya lebih dari 500 kamar.

Selain itu, tempat wisata juga mengalami kerugian, dimana sampai tingkat kunjungan wisatawan turun drastis sampai 70 persen.

Baca Juga : Punya Riwayat dari Luar Kota, Dua Warga Sumedang Jalani Isolasi di RSUD

"Jadi saat ini tingkat kunjungan wisatawan hanya tinggal 30 persen saja. Untuk hotel sendiri ada 32 event yang terpaksa dibatalkan dan semua kamar hotel yang tadinya mau diisi di Jatinangor juga dibatalkan," katanya saat dikonfirmasi sejumlah wartawan di Hotel Asri, usai melaksanakan sosialisasi penanganan COVID-19 bagi para pelaku Usaha di Hotel Asri, Senin (16/3).

Bertahan dalam kondisi seperti ini, sambung Nana, memang dilema dan agak sulit. Sebab pihaknya mempunyai karyawan, dan ketika harus diliburkan bagaimana terkait kompensasinya.

Kendati demikian kekhawatiran pelaku usaha seperti hotel yang tidak mau ambil resiko dengan berbagai dampak yang bisa saja terjadi ditengah wabah Corona, merupakan sebuah langkah kongkrit untuk mencegah penyebaran virus.

"Corona menyerang imunitas tubuh manusia. Sehingga kalau berkumpul untuk melakukan pertemuan-pertemuan yang jumlah masanya banyak, pasti pihak hotel enggak mau ambil resiko. Sehingga pihak hotel harus membatasi potensi-potensi kerumunan massa, apalagi yang diundang adalah warga luar kota," tuturnya.

Nana berharap, agar ada upaya dari pemerintah Kabupaten Sumedang, untuk hadir ditengah kemelut yang dihadapi oleh para pelaku usaha.

"Ini memang bukan masalah di Sumedang saja, tetapi sudah terjadi hampir di seluruh dunia. Akan tetapi setiap pemerintah daerah tentunya kebijakan, langkah ataupun upaya dan strategi yang akan dilakukan dalam menyikapi permasalahan akibat penyebaran corona ataupun pasca penyebaran virus Corona ini," ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sumedang, Hari Tri Santosa bahwa, pihaknya tentunya merasa prihatin dengan apa yang terjadi terhadap para pelaku usaha dengan adanya imbas penurunan okupansi dan kunjungan wisatawan yang turun dengan drastis.

Karena, kebijakan penutupan sejumlah ruang publik merupakan kebijakan dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan juga Pemerintah Daerah.

"Memang ini sebenarnya dilema, disatu sisi berimbas terhadap para pelaku usaha, disatu sisi kebijakan itu diambil untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona di Kabupaten Sumedang. Dan ini terjadi bukan hanya di Sumedang" ujarnya.

Disinggung mengenai permohonan para pelaku usaha terkait kebijakan pengurangan pajak. Hari mengatakan dirinya akan koordinasi dengan Instansi terkait yaitu Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah (Bappenda) Kabupaten Sumedang.

"Ya nanti, kita akan koordinasi terkait hal itu. Karena itu kebijakannya ada di Bappenda. Dan adapun berbagai keluhan dari para pelaku usaha tadi, saya akan segera kordinasi dengan pa Bupati," ujarnya.

Sementara itu, Sekertaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumedang, Dr Anna Sabana mengatakan, pada kegiatan sosialisasi penanganan COVID-19 pada sejumlah pelaku usaha di Kabupaten Sumedang. Pihaknya sudah mensosialisasikan terkait apa yang harus dilakukan oleh para pelaku usaha terkait penanganan COVID-19 di Hotel ataupun di Tempat Wisata.

"Yang paling penting, bagi para pelaku usaha, khususnya para pengusaha Hotel yang paling penting adalah melakukan screening bagi para tamu hotel dengan memakai thermo scanner. Namun, untuk saat ini terkendala akibat Thermo Scanner yang terbatas," ujarnya.

Anna berharap, dengan penyebaran virus Corona ini, pihak hotel ataupun para pelaku usaha parawisata bisa melakukan screening bagi para tamunya.

"Kalau untuk kebersihan sih, udah pasti pihak hotel akan terjaga, tetapi lebih baik lagi kalau setiap tamu itu di screening ketika datang," tandasnya. **