KORSUM.NET--Keberhasilan Kota Salatiga dalam menekan angka penyebaran Covid-19 di wilayahnya menjadi alasan jajaran Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang untuk melakukan studi tiru.

Untuk itu, Kamis (19/11), Bupati H Dony Ahmad Munir dan Wakil Bupati Erwan Setiawan hadir di Kota Salatiga Jawa Tengah untuk menggali informasi secara langsung atas langkah-langkah Pemerintah Kota Salatiga dalam penanganan Covid-19.

Bupati Dony Ahmad Munir mengatakan, kehadirannya di Kota Salatiga adalah ingin mengetahui lebih jauh tentang penanganan Covid-19 oleh Pemkot Salatiga yang telah dipandang berhasil bahkan dengan tingkat kematian terendah se-Jawa Tengah.

"Selain bersilaturahmi kami ingin mengetahui langkah-langkah khusus yang diambil oleh Pemkot Salatiga. Tentunya ada kekompakan diantara Forkopimda. Ada koordinasi dengan seluruh komponen wilayah," ucapnya.

Oleh karena itu, ia memohon kepada Pemkot Salatiga untuk berbagi ilmu dengan Pemkab Sumedang.

"Saya minta ilmunya dan informasinya berkaitan dengan penanganan Covid-19 sehingga bisa menekan penyebaran dan lonjakan kasus," kata bupati.

Walikota Salatiga Yuliyanto mengatakan, Pemkot Salatiga mengoptimalkan peran pengurus RT dan RW sebagai Satgas Covid-19 di tingkat RT/RW yang dinamakan dengan "Jogo Tonggo" sebagaimana program Pemprov Jawa Tengah.

"Sebanyak 204 RW yang ada kami optimalkan perannya dan masing-masing diberi dukungan anggaran Rp. 15 juta untuk penanganan Covid-19," ujarnya.

Menurutnya, pengurus RT dan RW merupakan garda terdepan dalam mendeteksi dini pasien tanpa gejala, warga yang kontak erat dan suspek, termasuk membantu kebutuhan warga yang melakukan isolasi mandiri di rumahnya.

"Saya meminta pengurus RT dan RW yang menjadi Jogo Tonggo senantiasa memantau kondisi kesehatan dan dampak ekonomi warganya dan melakukan upaya-upaya bantuan langsung kepada warga," ucapnya.

Ia pun melaporkan perkembangan kasus Covid-19 di kotanya dimana sampai 18 November 2020 total tercatat ada 421 orang yang terkonfirmasi Covid-19.

"Kami sudah melakukan 8000 lebih tes Swab dengan Angka Kesembuhan 8 persen, Tingkat Kematian 2,5 persen dan yang dirawat 15,75 persen. Hasil tersebut sampai saat ini menjadikan kami terbaik di Jawa Tengah dalam penanganan Pandemi, jelasnya.

Untuk pendisiplinan warga terhadap Protokol Kesehatan, ia telah mengeluarkan Perwal No.17 Tahun 2020 yang diimplementasikan di lapangan dalam bentuk sosialisasi, edukasi dan penerapan sanksi di seluruh kecamatan.

"Sampai saat ini kami telah melakukan 100 lebih operasi di lapangan yang melibatkan kecamatan, Satpol PP, TNI dan Polri. Bahkan berdasarkan survei BPS, masyarakat kami sudah lebih dari 80 persen yang menggunakan masker," terangnya.

Pemkot Salatiga telah menyiapkan anggaran Rp. 70 miliar untuk penanganan bidang kesehatan dan jaring pengaman sosial bidang ekonomi dampak pandemi Covid-19 yang berasal dari dana tak terduga sekitar Rp. 52 miliar ditambah dengan pergeseran anggaran yang dilakukan perangkat daerah.

"Bantuan tersebut kami fokuskan untuk kesiapan tenaga medis dan non medis, kelengkapan alat, penyediaan APD, insentif, dan untuk Rumah Singgah Sehat," jelasnya.

Alih-alih menggunakan istilah rumah karantina, Pemkot Salatiga memilih memberi nama tempat isolasi pasien Covid-19 dengan istilah "Rumah Singgah Sehat". 

"Hal ini dilakukan untuk menghilangkan stigma negatif dari masyarakat kepada pasien serta memberi sugesti positif demi kesembuhan pasien," ucapnya. 

Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, Walikota Salatiga Yulianto juga tidak segan untuk mendatangi rumah warga yang sedang melakukan isolasi mandiri untuk memberikan dukungan moril langsung sekaligus menghapus stigma negatif terhadap penderita Covid-19.

"Agar warga yang sakit tidak dijauhi, justru kita datangi. Kita foto-foto di sana dan hasilnya kita share di media sehingga tidak ada stigma negatif kepada pasien," katanya.

Menurut Yulianto, keterbukaan akan informasi juga dipandang penting. Oleh karena itu, Kepala Dinas Kesehatan secara rutin setiap hari pukul 13.00 WIB menyampaikan perkembangan kasus Covid-19 melalui berbagai media.

"Kasusnya tidak ditutup-tutupi. Semua selalu disampaikan terus menerus, baik melalui media sosial seperti facebook, instagram, youtube atau media lainnya. Ini untuk meningkatkan kesadaran warga akan bahaya penyakit ini, namun tanpa harus membuat mereka panik," ucapnya.

Ia juga menyampaikan suatu keunikan di daerahnya dimana pasar tradisional yang ada tidak pernah ditutup semenjak Covid muncul sehingga menjadi viral.

"Sejak awal-awal pandemi, tidak pernah ada pasar yang ditutup. Semua menjalankan aktivitasnya namun ditata sesuai protokol kesehatan. Yang mengejutkan adalah dari 900 orang warga pasar yang dites rapid maupun Swab, tak satupun hasilnya yang mengkhawatirkan," imbuhnya.