KORSUM.NET - Ketua Yayasan Nazhir Wakap Pangeran Sumedang (YNWPS) Rd. Luky Djohari Soemawilaga menilai ada pihak-pihak gagal paham atas definisi Cafe.

Menurutnya, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Kafe punya arti tempat minum kopi yang mengunjungnya dihibur dengan musik. Sehingga tidak ada kaitan dengan melanggar cagar budaya atau ada maksud negatif lainnya. Terlebih rencana Cafe itu tidak didalam gedung Museum Prabu Geusan Ulun.

"Kami tegaskan kepada pihak yang lakukan penolakan atas pengelolaan museum ini adalah akibat tidak mengerti atas wakaf Pengeran Aria Soeria Atmadja, " sebut Luky di kantornya, Selasa (23/2-2021).

Rencananya, Cafe itu akan dibuat seperti di Museum Nasional Indonesia yakni memberikan hiburan alunan musik Sunda kepada pengunjung sehingga menciptakan suasana rileks dalam menikmati kunjungan ke Museum yang merupakan pelaksanaan UU RI No. 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Bahkan, ada juga pihak  yang menyatakan bahwa pengelolaan aset museum yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga, bertentangan dengan UU RI No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya.

Itu merupakan pernyataan sesat dan menyesatkan sehingga patut diduga  melanggar pasal 311 KUHP yaitu pidana fitnah dan pasal 27 ayat (3) Jo. Pasal 45 ayat (3) UU RI No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yaitu penghinaan atau pencermaran nama baik.

"Kami mengingatkan dan menegur (somasi) agar pihak-pihak tersebut tidak mengulangi pernyataan yang patut diduga mengandung penghinaan atau pencermaran nama baik dan fitnah kepada kami, "tandasnya.

Museum Prabu Geusan Ulun (Gedung Srimanganti) merupakan harta benda wakaf Pangeran Aria Soeria Atmadja (PASA) dikelola secara sah oleh Yayasan Nazhir Wakap Pangeran Sumedang (YNWPS) yang diiklarkan pada 22 September 1912  dan disesuaikan dalam UU RI No. 41 tahun 2004  tentang Wakap.

"Sehingga tidak benar jika ada pihak-pihak luar YNWPS yang mengaku-ngaku memiliki hak untuk mengelola Museum Prabu Geusan Ulun, "ujarnya.

Sebab selaku Nazhir Pengeran Aria Soeria Atmadja yang sah berdasarkan hukum sebagai pengelola Museum Prabu Geusan Ulun akan bekerjasama dengan pihak ketiga (The Lodge).

Museum ini sebut Luky, akan dijadikan sebagai Icon Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS) yang akan disebar-luaskan yang tidak hanya di Sumedang, namun tingkat Nasional bahkan Internasional dengan tetap merujuk kepada aturan perundang-undangan.

"Kerjasama dengan The Lodge akan mengadaptasi Museum Nasional Indonesia yaitu akan membuat fasum-fasos diantaranya Cafe atau Restauran dengan tidak merubah atau merusak tatanan bangunan museum. Sementara tujuannya untuk mendukung program pemerintah Sumedang dalam bidang pariwisata, "katanya.